Jl. Dr. Ir. Sutami, Payakumbuh, Sumbar 26233

“Bukan Sekadar Memberi, Tapi Mendidik: Menanamkan Jiwa Kepedulian dan Kemanusiaan Lewat Gaza”

Mendidik Anak dengan Kepedulian terhadap Gaza adalah cara menanamkan empati, kasih sayang, dan jiwa kemanusiaan sejak dini dalam keluarga.

Anak Belajar dari Keteladanan, Bukan Sekadar Nasihat

Alhuffazh.or.id – Setiap orang tua ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik. Kita menasihati mereka untuk berbagi, mengajarkan doa, dan memilihkan pendidikan terbaik. Namun sesungguhnya, anak tidak terutama belajar dari kata-kata. Anak belajar dari apa yang ia lihat kita pedulikan.

Ketika seorang anak menyaksikan orang tuanya menyisihkan rezeki untuk membantu orang lain yang jauh dan tak dikenal, di situlah pendidikan hati dimulai. Ia mungkin belum memahami konflik atau peta dunia, tetapi ia memahami satu hal sederhana: ada anak lain yang sedang kesulitan, dan keluarganya memilih untuk peduli.


Gaza sebagai Ruang Belajar Empati dalam Keluarga

Di sinilah Gaza menjadi lebih dari sekadar berita. Ia menjadi ruang belajar empati bagi keluarga. Saat anak diajak menyiapkan sedekah, memasukkan makanan ke paket bantuan, atau mengangkat tangan mendoakan anak-anak yang berbuka dalam keterbatasan, sesungguhnya sedang tertanam nilai kemanusiaan yang tidak dapat diajarkan oleh buku pelajaran mana pun.


Menanamkan Nilai Kemanusiaan Lewat Tindakan Nyata

Islam tidak hanya membentuk kecerdasan, tetapi juga menghidupkan nurani. Rasulullah ﷺ mendidik para sahabat melalui keteladanan: memberi makan yang lapar, memuliakan yang lemah, dan menolong tanpa pamrih. Anak-anak yang menyaksikan teladan seperti itu tumbuh dengan hati yang lembut dan peka.


Pendidikan Hati: Lebih dari Sekadar Kecerdasan

Hari ini kita sering sibuk menyiapkan masa depan anak — sekolah terbaik, fasilitas terbaik, kemampuan terbaik. Semua itu penting. Namun tanpa kepedulian, anak bisa tumbuh cerdas tetapi hampa; mengetahui banyak hal, namun tidak tersentuh oleh penderitaan sesama.

Mengajak anak peduli pada Gaza bukan menanamkan kebencian, melainkan menanamkan kasih sayang. Anak belajar bahwa hidup bukan hanya tentang memiliki, tetapi tentang memberi. Ia memahami bahwa kebahagiaan bukan sekadar menerima, melainkan mampu meringankan beban orang lain.


Ramadhan sebagai Madrasah Kepedulian

Ramadhan menjadi madrasah terbaik untuk itu. Ketika anak ikut bersedekah, memilih barang yang akan diberikan, lalu berdoa tulus untuk saudara yang jauh, saat itulah karakternya terbentuk. Ia mungkin akan lupa mainan yang pernah dimilikinya, tetapi ia tidak akan lupa perasaan pertama kali membantu orang lain.

Sesungguhnya bantuan itu tidak hanya sampai ke Gaza.
Ia sampai ke hati anak kita.

Karena kita tidak hanya sedang mengirim makanan,
kita sedang membentuk manusia.

Kunjungi Instagram Al Huffazh

Share:

More Posts

Send Us A Message