Kerinduan Nabi Muhammad kepada Ibunya di Abwa
Alhuffazh.or.id – Angin Madinah bertiup tenang, membawa aroma kurma yang matang, namun di dalam dada Baginda Nabi Muhammad saw.
bergejolak sebuah kerinduan yang telah mengendap selama puluhan musim. Dalam perjalanan menuju Mekah, di sebuah tempat gersang bernama Abwa, langkah kaki mulia itu terhenti. Beliau meminta rombongan untuk berhenti sejenak.
Di sana, di antara hamparan pasir yang membara, terdapat sebuah gundukan tanah sunyi yang dijaga oleh keheningan padang pasir. Itulah makam Siti Aminah binti Wahab.
Tangisan Rasulullah di Makam Siti Aminah
Baginda mendekat dengan langkah yang berat, seolah setiap butir pasir di bawah alas kakinya ikut bertasbih menyambut pertemuan ibu dan anak yang telah terpisah oleh tirai kematian selama puluhan tahun.

Beliau duduk bersimpuh di samping pusara itu. Wajah yang biasanya memancarkan cahaya ketenangan itu kini tampak digenangi mendung kesedihan.
Air mata, permata bening yang jarang jatuh, mulai mengalir membasahi pipi sang kekasih Allah. Beliau menunduk, menyentuh tanah makam itu dengan jemari yang pernah membelah bulan.
Dalam bisikan yang lirih, seakan-akan waktu berputar kembali ke masa kecilnya di padang pasir, beliau berucap :
“Wahai Ibunda… putramu datang. Anak yatim yang dulu engkau tinggalkan di tengah perjalanan ini, kini telah memikul beban risalah langit. Namun di hadapan makammu, aku tetaplah Muhammad kecilmu yang merindukan hangat dekapanmu.”
Suasana mendadak hening, bahkan angin seolah menahan napasnya. Para sahabat yang melihat dari kejauhan ikut terisak, melihat punggung sang Nabi yang bergetar hebat
Baginda melanjutkan dengan suara yang tercekat oleh isak:
“Ibu, andai kau lihat betapa dunia kini mengenal nama yang kau berikan padaku. Namun, di setiap sujudku, ada ruang kosong yang hanya bisa diisi oleh senyummu. Engkau pergi saat aku belum sempat membalas setetes pun air susu yang kau berikan, saat aku bahkan belum mengerti arti kehilangan yang sesungguhnya.”

Di tengah keheningan Abwa yang mencekam, isak tangis Baginda Nabi saw. semakin pecah hingga bahu mulianya terguncang hebat.
Para sahabat yang berdiri agak jauh terpaku, hati mereka seolah tersayat melihat sosok yang paling tegar di muka bumi itu luruh dalam kesedihan yang begitu dalam.
Belum pernah mereka melihat air mata sang kekasih Allah mengalir sederas itu, seakan-akan seluruh duka dunia tumpah di satu titik nisan yang sunyi.
Dialog Haru Rasulullah dan Para Sahabat
Sayyidina Umar bin Khattab r.a., dengan langkah ragu dan suara yang bergetar karena tak tega, memberanikan diri mendekat. Ia berlutut di belakang Baginda, menundukkan kepala dengan penuh hormat, lalu berbisik lembut

“Wahai Rasulullah, ayah dan ibuku menjadi jaminan bagimu, apa yang membuatmu menangis sedemikian hebat hingga membuat kami pun tak sanggup menahan tangis ini?”
Rasulullah saw. perlahan mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata, menoleh ke arah sahabat setianya dengan tatapan yang sarat akan makna. Beliau mengusap sisa air mata di pipinya, lalu menjawab dengan suara yang masih parau :
“Aku teringat akan ibundaku… aku teringat akan kasih sayangnya yang singkat namun membekas selamanya. Aku memohon izin kepada Tuhanku untuk menziarahi makamnya, dan Dia mengizinkanku.
Maka, rasa rindu dan iba ini tumpah begitu saja saat aku menyentuh tanah tempatnya beristirahat.”
Makna Ziarah dan Kerinduan Seorang Anak
Beliau terdiam sejenak, memandang pusara itu dengan tatapan yang sangat jauh, lalu melanjutkan:
“Menangislah, wahai Umar. Karena ziarah ini mengingatkanku pada akhir perjalanan setiap jiwa, dan di sini, aku hanyalah seorang anak yang merindukan pelukan ibunya.”
Para sahabat pun ikut menangis sejadi-jadinya. Mereka menyadari bahwa di balik keagungan nubuwah yang dipikulnya, detak jantung Muhammad saw. adalah detak jantung manusia yang paling halus perasaannya, yang tetap menyimpan sudut kecil nan abadi untuk seorang ibu yang telah tiada.
Beliau mengusap tanah itu dengan penuh kelembutan, seolah-olah sedang mengusap kening ibundanya. Kehangatan cinta seorang anak meluap, menembus batas alam barzakh

Pertemuan singkat itu adalah sebuah dialog tanpa suara antara dua ruh yang terikat kasih abadi. Setelah puas menumpahkan kerinduan, beliau bangkit dengan wajah yang sembap namun bercahaya, meninggalkan Abwa dengan langkah yang tetap tegak, meski separuh hatinya tertinggal di bawah nisan yang sunyi itu.



