Diterbitkan oleh, Edhie Kusmana, S.Ag., MM – Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan momentum agung dalam sejarah Islam yang sarat dengan pesan transformasi spiritual dan peradaban. Ia bukan sekadar perjalanan luar biasa Rasulullah ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha, tetapi juga titik balik pembentukan manusia dan peradaban Qur’ani.
Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa kebangkitan umat tidak cukup hanya dengan kemajuan materi, tetapi harus dimulai dari pembenahan iman, akhlak, dan sistem kehidupan yang berpijak pada nilai-nilai Al-Qur’an.
Isra’: Membangun Kesadaran Sosial

Perjalanan Isra’ menggambarkan dimensi horizontal ajaran Islam. Masjidil Haram sebagai pusat tauhid dan Masjidil Aqsa sebagai simbol sejarah kenabian mengajarkan bahwa iman harus melahirkan kepedulian sosial, persatuan umat, dan komitmen membangun peradaban yang adil.
Islam hadir bukan hanya untuk membentuk individu saleh, tetapi juga masyarakat yang beradab, menjunjung keadilan, dan membawa kemaslahatan bagi seluruh manusia.
Mi’raj: Penguatan Ruhani sebagai Fondasi Perubahan
Mi’raj menegaskan bahwa kekuatan peradaban bersumber dari kedalaman spiritual. Dalam peristiwa inilah shalat diwajibkan sebagai ibadah utama yang membentuk karakter manusia.

Shalat melatih disiplin, kejujuran, ketundukan kepada Allah, serta tanggung jawab moral. Dari sinilah lahir pribadi-pribadi yang kokoh iman dan akhlaknya—modal utama pembangunan peradaban.
Shalat dan Manusia Qur’ani
Sebagai buah dari Isra’ Mi’raj, shalat menjadi pilar Peradaban Al-Qur’an. Ia menyeimbangkan hubungan dengan Allah (hablun minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablun minannas).
Manusia Qur’ani adalah mereka yang:
• memiliki spiritualitas yang kuat,
• kecerdasan yang tercerahkan,
• dan akhlak yang mulia.
Merekalah agen perubahan yang mampu membawa umat menuju kemajuan yang bermartabat.
Relevansi Isra’ Mi’raj di Era Modern

Di tengah krisis moral dan disorientasi nilai, Isra’ Mi’raj menjadi sumber inspirasi transformasi. Peradaban Al-Qur’an adalah peradaban yang menjadikan wahyu sebagai kompas, ilmu sebagai sarana, dan akhlak sebagai tujuan.
Kemajuan sejati lahir ketika iman, ilmu, dan amal berjalan seiring dalam kehidupan individu maupun lembaga.
Penutup
Isra’ Mi’raj bukan sekadar peristiwa yang diperingati, melainkan spirit yang harus dihidupkan. Ketika nilai-nilai Al-Qur’an menjadi dasar gerak umat, maka akan lahir peradaban yang adil, berkeadaban, dan membawa rahmat bagi semesta.



