Jl. Dr. Ir. Sutami, Payakumbuh, Sumbar 26233

KETIKA LAPAR MENJADI DO’A

apakah Ramadhan juga kita siapkan sebagai bulan kepedulian terhadap saudara-saudara kita yang hidup dalam kekurangan?

Alhuffazh.or.id – Menjelang Ramadhan, suasana religius mulai terasa. Umat Islam menyiapkan diri dengan niat puasa, jadwal ibadah, dan harapan akan ampunan.

Namun di tengah kesiapan spiritual itu, ada satu pertanyaan yang patut kita renungkan bersama: apakah Ramadhan juga kita siapkan sebagai bulan kepedulian terhadap saudara-saudara kita yang hidup dalam kekurangan?


Kesalehan sosial bukan sekadar istilah, tetapi ruh dari ibadah Ramadhan. Puasa mengajarkan lapar bukan untuk dinikmati sendiri, melainkan untuk dirasakan sebagai jalan empati.

Ketika perut kita kosong karena ibadah, pada saat yang sama banyak saudara kita yang lapar karena keterbatasan hidup. Dari sinilah Ramadhan membangun kesadaran bahwa ibadah sejati tidak berhenti di sajadah, tetapi bergerak ke realitas sosial.


Al-Qur’an menegaskan bahwa tujuan puasa adalah membentuk takwa. Takwa bukan hanya kedekatan dengan Allah, tetapi juga kepekaan terhadap penderitaan sesama. Takwa yang hidup melahirkan kepedulian, bukan keacuhan; berbagi, bukan menumpuk; menguatkan, bukan meninggalkan.


Dalam khazanah Mazhab Syafi’i, pesan ini ditegaskan dengan sangat jelas. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menjelaskan bahwa puasa memiliki tingkatan.

Puasa yang sempurna adalah puasa yang menjaga seluruh anggota tubuh dari menyakiti orang lain. Artinya, orang yang berpuasa tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga dari sikap egois, ucapan yang melukai, dan perilaku yang mengabaikan hak orang lain—terutama mereka yang lemah dan miskin.

Hal senada dijelaskan oleh Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu‘in. Ia menegaskan bahwa perbuatan seperti ghibah, merendahkan, dan menyakiti sesama memang tidak membatalkan puasa secara hukum, tetapi merusak pahala dan nilai ibadah. Ini menunjukkan bahwa puasa sejatinya adalah latihan membangun kesadaran sosial dan akhlak kolektif.


Kesalehan sosial Ramadhan menemukan wujud nyatanya dalam zakat fitrah dan anjuran berbagi. Zakat fitrah bukan hanya penyempurna ibadah pribadi, tetapi pesan moral bahwa Idulfitri tidak boleh dirayakan di atas penderitaan orang lain. Ramadhan mengajarkan bahwa kebahagiaan harus dibagi, dan kesejahteraan harus dirasakan bersama.


Dalam situasi hari ini—ketika kemiskinan, bencana, dan beban hidup semakin berat—Ramadhan hadir sebagai panggilan nurani. Ia mengingatkan kita untuk menoleh kepada tetangga yang kesulitan, kepada dhuafa yang berjuang memenuhi kebutuhan harian, dan kepada saudara-saudara kita yang terdampak bencana.


Maka, menyambut Ramadhan adalah menyiapkan diri untuk berbagi. Berbagi paket sembako bagi kaum dhuafa dan korban bencana bukan sekadar bantuan materi, tetapi tanda cinta dan solidaritas. Ketika lapar kita berubah menjadi empati, dan empati melahirkan aksi, di situlah Ramadhan benar-benar hidup—bukan hanya di masjid, tetapi di tengah masyarakat.

Ramadhan akan berlalu, tetapi kepedulian yang kita tanamkan semoga tinggal lebih lama. Karena sejatinya, ibadah terbaik adalah yang paling terasa manfaatnya bagi sesama.

Share:

More Posts

Send Us A Message